The Top Of The Pop Of The Rock 2013

lazyroom

Yang saya ingat dari hari Minggu 23 Desember 2012 itu adalah diawalinya sore dengan hujan lebat, tepat beberapa jam sebelum acara The Top Of The Pop Of The Rock dimulai di Houtenhand. Kabar dari rekan LO bahwa Kawan – kawan jogja baru datang jam 2 siang dan istirahat sejenak sebelum berangkat ke venue. Sore yang kelabu dan basah ini seketika melengkapi atmosfir galau performance hari itu yang kebetulan diisi oleh grup – grup yang notabene bersound “sendu” bahkan sampai “kencang dan sakit”. Saya bersantai terlebih dahulu di bar dengan sebotol Bintang untuk menghangatkan badan, sementara kawan – kawan dari jogja bersiap baik secara pribadi maupun equipment set.

Waktu berlalu tak terasa Adzan telah berkumandang mengantar kami semua memasuki petang. Hujan yang lebat membuat sedikit acara molor karena Band pertama yaitu Intenna masih menunggu rekan rekan mereka yang masih berteduh. Hujan segera berhenti tepat jam 7.30. Sorotan projektor memancarkan visualisasi yang menambah atmosfir hazy saat itu. Memainkan tembang andalan mereka Little Miss Sunshine yang sama sekali tidak cerah namun berawan dan dilanjutkan oleh Dansa Hujan Intenna dengan apik mengawali perjamuan teman – teman Malang untuk Kawan – Kawan Jogja. Kemudian datang giliran tampil Answer Sheet. Saya pernah mendengar mereka melalui rilisan SEAindie yang free download, dan jujur sedikit sangsi akan penampilan mereka pada hari ini. Namun apa yang saya lihat benar – benar diluar dugaan. Dengan iringan perkusi dan organ yang apik, answer sheet memberikan penampilan yang merupakan turning moment dari atmosfir sore itu. Dengan nomor nomor Love Beach, Sadranan dan Stay, Leave dan hebatnya dengan instrument utama ukulele seakan kami diberi pelangi dan pasir putih setelah badai delay,reverb dan tremolo sebelumnya.

Sesi selanjutnya dilanjutkan oleh Ajer, band folk yang baru saja dibentuk 2011 ini telah meluncurkan single Pena Hitam yang juga menembus chart radio 99ers di Jakarta. Featuring teman dari singapore yaitu Suhaili Safari aka Ellie menambah suasana fiesta dalam sesi mereka. Nampak beberapa penonton Sing Along saat lagu Pena Hitam dan The Dark Street Help me Believe In Something. Kembali suasana menjadi sparse dan sendu ketika You Know You’re Right mengawali sesi mereka, band post-rock yang juga baru dibentuk 2011 ini tampil keras. Walau covering PG.LOST mereka menginterpretasikannya dengan lebih nyata dan “in your face”.

Band ini juga akan menelurkan album di tahun 2013, kita lihat saja kiprah mereka di Tahun Ular nanti. Dilanjutkan dengan sesi selanjutnya oleh LazyRoom yang juga sebagai penutup. Band dari jogja ini juga telah menelurkan album berjudul Native Narative yang dirilis oleh Paperplane Records yang juga didistribusikan oleh salah satu record label di Amerika Patetico records. Nampak beberapa penonton yang belakangan saya tahu dari Tarakan, karena personil – personil dari LazyRoom adalah mahasiswa perantauan dari Tarakan yang kuliah di kota Jogjakarta. Badai Delay dan Reverb kembali menyelimuti lantai dua houtenhand, dengan beberapa singalong di lagu seperti Take Me Home (sebuah ode terhadap rasa rindu mereka terhadap kampung halaman mereka). Dan hari ini pun mengembalikan harapan dan optimisme saya akan hari esok. Karena seperti kata sebuah radio online di jogja yaitu PamitYangYangan, “Karena Galau Adalah Harapan.”

Rainy Days Triangle Positivity EP launching

Image

Minggu malam umumnya adalah malam yang memuakkan. Beberapa jam menuju hari Senin, dan mungkin bagi beberapa orang adalah hari untuk menyelesaikan deadline yang tertunda karena ditinggal sebentar berakhir pekan di hari sabtu. Namun hari ini, admin berusaha mengubah mindset tersebut. Demi kewarasan fikir dan kelapangan hati, admin nekad meninggalkan sejenak (lagi) pekerjaan untuk awal minggu demi sebuah gigs yang ada di Houtenhand lembab dan kadang membuat mata sembab. Tersebutlah band dari Surabaya bernama Rainy Days melangsungkan launching EP mereka yang berjudul Positivity Triangle. Dengan sound indie pop yang distorsif namun optimis akan menggelar karya – karya mereka di lantai dua Houtenhand yang biasa dipakai perhelatan musik dan booze party.

Bersama dua band pendamping yaitu satu dari Surabaya, Porn Ikebana dengan sophisticated ballads nya dengan sedikit ramuan psikedelia pop yang umum kita temui di band pop 60an dan Gang Holiday dari malang dengan Ska Punknya yang kental bernafaskan youth pride dan party hard. Berbekal tiket segelas plastik bir bintang admin mulai meninggalkan tanggungan pekerjaan di rumah untuk terjun dalam kerumunan satu spesies saya yang mungkin mencari pelarian yang sama dari ambang awal rutinitas esok. Dibuka oleh Gang Holiday, dengan kocokan yang khas ska dan irama punk yang mengajak anda pogo diantara tubuh2 berkeringat, sedikit mengingatkan admin pada Operation Ivy dan Rancid.

Perlu diketahui bahwa admin pertama kalinya menonton Gang Holiday secara Live di Houtenhand  jadi admin kurang paham judul – judul lagu yang mereka suguhkan saat itu dan yah berhasil memanaskan awal acara dan mood admin yang sedang tertekan memikirkan tanggungan hari Senin. Dilanjutkan dengan next performance dari Porn Ikebana dengan lagu pertama A Date With Mr Bigfoot yang membuai dengan ombang ambing nada nada  psikedelia dan imaji tentang padang rumput dunia dongeng. Dilanjutkan dengan hit single mereka She Song. Lagu selanjutnya adalah cover version dari Bat For Lashes yaitu “Horse and I” yang dibawakan dengan apik, bahkan jika mendengarkan sekilas, anda akan berpikiran bahwa itu bukan lagu cover version.

Diakhiri dengan Thank you Marcus yang dibawakan dengan spoken word. Lepas Porn Ikebana, tiba saatnya main act yaitu Rainy days mengawali sesi mereka dengan lagu “Everytime” yang rancak dan ceria,kontradiktif dengan dekor yang mereka bawa yaitu neon biru yang malah membuat lantai dua houtenhand remang remang. Berlanjut ke lagu “Ocean” dan “Heavy Rain” yang malah membawa kita jauh dari suasana yang sebenarnya ada di venue,membuat admin malah merasa berada di pantai walaupun berjudul hujan deras jika diterjemahkan dalam bahasa indonesia. Suasana pantai berlanjut ke lagu ke empat dan kelima yang berturut – turut berjudul “Afternoon Beach” dan lagu terakhir “Sunshine” yang membuat admin merasa perlu ganti baju dengan baju pantai. Malam yang canggung dengan konsep out of box walaupun band – band telah tampil bagus. Admin pun pulang dengan perasaan biasa biasa saja.

TRIBUTE TO PEARL JAM

Sejatinya tribute adalah sebuah persembahan. Sesajian terhadap seseorang atau sesuatu yang dipuja atau berjasa terhadap kelangsungan hidup kita semua. Dalam hal musik tribute adalah sebuah sesajian dan penghormatan berupa menyanyikan lagu band atau penyanyi yang dihormati itu karena pengaruhnya dalam skena musik daerah yang bersangkutan.

Kali ini Houtenhand dan MalangSubPop pada hari Minggu 16 september 2012 mempersembahkan sebuah tribute kepada salah satu band yang berpengaruh di era 90an, yang bisa dikatakan salah satu Grunge Gods yang ada di United States di masanya dan mungkin sampai sekarang, yaitu Pearl Jam.

Dimulai jam 8 pada poster, namun molor sampai jam setengah sembilan karena beberapa personel band belum lengkap bukan merupakan kekurangan acara ini namun advantage tersendiri bagi teman-teman yang terlambat seperti saya ini.

Dimulai dengan band Confusion Bitch dengan mengkover lagu Immortality dari album Vitalogy kemudian dilanjutkan dua lagu sendiri, mampu memanaskan starting point dari tribute ini. Kemudian disusul Scarred Face, dengan versi noisy mereka, terlihat pada lagu kedua mereka beberapa audiens merangsek ke depan berebut mikrofon untuk sing along. Dilanjutkan Titik Koma yang mendera kita dengan distorsi nikmat minus bass namun tetap bertaring. Vokal Fritz yang raw and honest membakar Houtenhand lebih jauh lagi, suasana semakin memanas dengan adanya stage diving. Motherwish adalah talent selanjutnya yang makin memanaskan suasana tribute ini, membawakan full cover dari Pearl Jam dan kemudian datanglah tower bir berjalan memberi siraman rohani kepada audiens dan bandmates di stage. Bleach Sweater, kemudian melanjutkan tribute ke taraf selanjutnya, dengan personil dari berbagai band yang ada malam itu tak membuat power band yang “sepuh” di skena grunge Malang ini kekurangan power. Maman tetap bernyanyi powerful dan berkharisma di stage yang intim dan tanpa batas antara audience dan band ini. Terakhir ditutup dengan kejutan penampilan band Better Man, yang juga gaek di Malang ini, spesialis lagu – lagu Pearl Jam.

Suasana semakin liar, stage diving mulai merajalela di sepanjang sesi mereka, bahkan ada yang kehilangan sandal pun tidak peduli, lantai basah dengan bir dan peluh orang orang yang memenuhi lantai dua Houtenhand di daerah kayutangan itu. Acara ditutup di jam 12 dan lagu Why Go masih terngiang di telinga.